HAYIR YAPMA; BUGUN MUBAREK GUNU

IMG_2304[1](Suasana Perayaan Mi’raj Kandil di Mesjid Kocatepe)

Seorang anak kecil setengah merengek ke ibunya, menunjuk ke arah piyanggo, Lotre.

“Hayir, Bugun mubarek gunu” Si Ibu dengan tegas mengatakan tidak; ini hari yang berkah, Nak.

Pemandnagan lima detik itu sontak menyita perhatian kami. Bang Akmal menyeringai tertawa disusul Bang Faris yang baru engeuh beberapa saat kemudian. Hari ini jam 10 pagi lewat beberapa menit, kami teronggok menunggu bus pemerintah di Sihiyye menuju Cankaya, sekitar 1 kilo meter ke arah kizilay.

Cerita anak kecil itu tersambung 11 jam kemudian di benang ingatan. Musa dan Fruqon, teman-teman asrama, mengajak saya ke acara Mi’raj Kandil, Rajaban.

“Hadi gel bizimle, miraz kandilimizi kutluyoruz”*

********
Hari ini kami merayakan mi’raj di mesjid Kocatepe.

Kami duduk manis mendengarkan kasidah dibacakan. Mungkin seperti barzanzi dalam tradisi Indonesia. Setekah setengah jam duduk manis dan tenang, Musa meledek saya dengan bertanya retoris:

“Tam anliyo musun; Emangnya kamu bener-bener paham?”

“Arabca mi bu; apakah ini bahasa arab?” Saya malah innocent kembali bertanya. Dalam pendengaran saya seperti ada kata-kata bahasa arab muncul berkali-kali.

Owh, tidak, saya salah. Di mimbar sana, si pembaca kasidah begitu mendayu-dayu memainkan suaranya dalam bahasa Turki yang samar. Tak ada satu kalimatpun yang masuk di jaring otak; saya lebih memilih bertasbih, bertahmid, sekaligus bertakbir; yang jelas-jelas dianjurkan.

Seperti Sang Hoca, yang 20 menit kemudian tampil dan memulai khutbah dengan tahmid yang memukau halus.

“Saya memberikan apresiasi yang tiada terkira kepada hadirin, khususnya yang hadir di tempat ini untuk memperingati Mi’raj Nabi Muahmmad” Sang Hoca membuka cermahnya malam itu. Kemudian menjelaskan proses turunnya Alquran seperti terurai pada ayat pertama Surah Bani Israil. Lalu, Beliau mengaitkan perihal shalat dalam beberapa konteks.

Efendim, sekarang malam yang berkah, mintalah ampunan dengan sepenuh hati, hubungi keluarga, minta maaflah kepada mereka” Beliau menganjurkan amalan baik.

“Juga jangan lupa, jika ada tetangga yang sakit, jenguklah. Jika ada orang yang kesusahan, tolonglah” selanjutnya Beliau mengingatkan keberkahan malam ini, di mana malaikat turun ke langit-langit dunia.

Mi’raj kandil dalam kebudayaan Turki merupakan perayaan besar. Mereka percaya bahwa ini adalah salah satu malam yang suci di mana doa-doa dikabulkan Tuhan di Langit. Sang Hoca menutup khutbahnya dengan doa-doa dan pengharapan. Tentang keberhakan hidup, keberkahan umur, ketentraman hati, dan kedamaian negeri.

Tahukah kawan, ketika kami mengamini doa yang dipanjatkan sang hoca tembakan bom asap terdengar berkali-kali memekakan telinga. Tuhan, hanyalah kepadamu kami meminta perlindungan.

*******

IMG_2316[1]

(Seorang warga tengah sampah-sampah jalan raya yang di hamburkan para demonstran)

Selesai shalat dari kocatepe kami berjalan pulang.

Jam tengah menunjuk ke Anka 11. 00. Perut kami keroncongan minta diisi dan terpaksa mampir di salah satu restoran kecil yang akan segera tutup. Saya sedikit rasa kuatir. Karena sekitar 50 meter dari tempat kami makan, ratusan massa masih berkonsentrasi di perempatan Kolej.

Sembari makan saya jadi ingat kata-kata Musa tentang Protesto ini.

“Ini bukan protesto, Kawan; mana ada protesto macam ini” Dia menunjuk jalan-jalan yang berantakan penuh sampah. Banklar, bangku-bangku taman, hancur dipakai dan dibakar untuk memblokir jalan.

“Ini sudah di luar batas kewajaran” Dia mengeluarkan unek-unek dan rasa kesalnya.

Demontrasi di Ankara memasuki hari ke-lima, atau hari ke-enam jika menghitung dari rangkaian awal kejadian rusuh di Istanbul. Hari ini terjadi demo besar-besaran, karena para buruh dan pekerja kantoran juga turun ke jalan. Itulah sebabnya, pagi tadi kami linglung di Sihiye mencari bus menuju Cankaya, karena Stasiun Metro bawah tanah Kizilay dan sekitarnya sudah ditutup sejak jam sembilan pagi.

Para demonstran selalu beringas menjelang malam. Mereka membakar bangku-bangku taman; membakar sampah-sampah di tengah jalan. Merusak papan reklam; iklan, bus angkutan umum, spanduk, lampu lalu lintas dan hal lain yang berbau pemerintah; mereka seperti ingin mencincang Erdogan hidup-hidup, kata-kata kotor dari yang paling busuk tercecer di gedung-gedung sekitar Kizilay.

Di sini, kata-kata kotor dalam kontek politis telah bergeser ke dalam kalimat-kalimat amoral. Saya sendiri tak berani membayangkan walau menuliskan ulang kata-kata itu.

Kami berjalan pulang melewati kerumunan masa menuju Kurtulus, satu stasiun setelah Kolej. Jam sudah bertengger di anka 11.40.

Kolej sendiri sudah tak karuan. Api sedang berkobar di sana. Jalan-jalannya diblokir. Bau Asap terasa menyengat hidung. Kami lewat kerumuman dan perasaan terasa beku: terkena tatapan wajah-wajah dingin penuh curiga. Kini kami sedang meleati perempatan, melewati kemrumuman para demonstran.

“Geliyo, geliyo, geliyo” sesseorang berteriak mengabarkan bahwa polisi datang.

Sirene meraung-raung. Demostran siap-siap lari dengan satu dua kali lemparan batu-batu dan botol bersoda. Kami masuk taman berlali memutar ke arah Kurtulus. Berusaha menghindari tembakan peluru karet.

Kami berhasil terhindar dari peluru karet, tapi biber gazi lebih cepat melesat ditembakan sampai ke ujung jalan di depan kami, dan mengeluarkan kepulan asap menyengat. Kami ikut ikut terjebak beberapa menit.

Sialan, umpat saya dalam hati. Mata meleleh, hidup terasa sakit tersengat bau. Kejadia dua hari lalu terulang kembali. Mungkin anak-anak nakal ini tak ada yang mengingatkan seperti ini anak kecil tadi pagi: Hayir yapma, bugun mubarek gunu**

(Bersambung…)

*Mari kira merayakan hari suci miraz, Kawan

**Plis, jangan berulah, tahukah kalian jika sekarang adalah malam yang diberkati

Advertisements

About kaferindujurjani

Penulis lahir dı Lebak, Banten, Indonesıa, dan kini tınggal dı kota kecil Trabzon, Turkı
This entry was posted in Perjalanan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to HAYIR YAPMA; BUGUN MUBAREK GUNU

  1. eka says:

    semoga Allah selalu melindungi ka jani di sana, amin.
    met idul fitri : )
    he…..baru mampir lg ke kafe ini : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s